PN Jaksel Tunda Sidang “Unlawful Killing” Sebab Terdakwa Terpapar Covid-19

PN Jaksel Tunda Sidang “Unlawful Killing” Sebab Terdakwa Terpapar Covid-19 PN Jaksel Tunda Sidang “Unlawful Killing” Sebab Terdakwa Terpapar Covid-19

Jakarta – Majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan di Jakarta, Selasa (15/2), menunda sidang agenda pembacaan tuntutan terhadap dua polisi yang menjabat terdakwa pembunuhan sewenang-wenang (unlawful killing) karena mereka tepat Covid-19.

Hakim ketua, Muhammad Arif Nuryanta, menetapkan sidang akan kembali berlangsung secara virtual dan langsung memakai pembatasan di PN Jakarta Selatan atas Selasa minggu depan (22/2).

“Persidangan hari ini kita cukupkan. Persidangan kami tunda maka kami ungkap kembali Minggu depan 22 Februari sembari melihat perkembangan dari para terdakwa,” kata Arif sebelum akhirnya mengetok palu tanda sidang ditutup.

Majelis hakim membuka sidang di PN Negeri Jakarta Selatan, Jakarta, Selasa, yang dihadiri oleh satu perwakilan ketimbang penuntut mendunia, dan satu anggota tim penasihat hukum.

Jaksa lainnya yang biasa hadir dalam persidangan, yaitu Zet Todung Allo, Erna, Paris Manalu, demi Fadjar, mengikuti persidangan secara virtual melalui Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan.

Sementara itu, tim penasihat hukum yang dipimpin oleh Henry Yosodiningrat mengikuti persidangan atas keheningannya dekat Jakarta Selatan.

Dalam persidangan itu, Nuryanta menjelaskan sidang digelar secara virtual bertimbal lewat keputusan Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Selatan maka Ketua Pengadilan Tinggi DKI Jakarta.

Tujuan pembatasan itu di antaranya demi mencegah penyebaran Covid-19 terutama varian anyarnya, Omicron, mengingat belum lama ini sejumlah pegawai PN Jakarta Selatan terkena Covid-19.

Ia pun menanyakan kondisi dua terdakwa, yaitu Brigadir Polisi Satu Fikri Ramadhan bersama Inspektur Polisi Dua Mohammad Yusmin Ohorella, yang tidak terlihat antara layar.

Penasihat hukum pun menjelaskan keduanya positif Covid-19 bersama dianjurkan sebab dokter mengenai RS Pondok Indah demi menjalani isolasi mandiri selama 14 hari terhitung sejak 14 Februari. “Secara hukum sidang tidak bsebab dilanjurkan kepada terdakwa bahwa remuk,” kata Henry ke majelis hakim.

Nuryanta pun meminta pendapat penuntut umum terkait kondisi dua terdakwa itu, langsung jaksa menyerahkan keputusan ke majelis hakim.

Ramadhan lagi Ohorella menjalani persidangan kasus pembunuhan sewenang-wenang (unlawful killing) akan menewaskan enam anggota FPI.

Dua terdakwa itu menjumpai penuntut global dijerat dengan pasal 338 berikut pasal 351 ayat (3) KUHP juncto pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. Ancaman pidananya 15 tahun penjara berikut tujuh tahun penjara.

(Antara)